Cerpen Remaja

 

AKHIR DARI PERSAHABATAN

Oleh : Dysha Assifa Utari



Angin malam berteriak keras, disapa hujan yang turun deras membasahi luar jendela tepat dihadapanku. Aku terdiam, hanya suara detak jam dinding dan jatuhnya air hujan yang terdengar. Aku kembali memandangi foto-fotonya dan tidak sadar air mataku jatuh seperti yang langit lakukan. Semua kenangan indah itu muncul lagi dikepala ku.

“Lia, mengapa Tuhan sangat cepat memanggil mu?”. Kamu adalah sahabat terbaikku, sikap lemah lembutmu selalu menenangkan hati setiap orang yang mengenalmu. Tawa canda dan senyuman manismu selalu mengisi kepalaku. Sulit ku lupakan kejadian pada hari itu.

“Jadi kita rencananya mau kemana, Ra?” ujar Yuna membuka percakapan. “Hmm, bagaimana jika kita berkunjung ke rumah buk Dita? Dia kan wali kelas SD kita dulu” seru ku memberi saran. “Tapi kan rumah buk Dita jauh, kita pergi ke sana menggunakan apa?” kata Lia. “Kita pakai motor saja, bawa 2 motor, aku bersama Yuna, dan kamu bersama Naira” ucap Veli kepada Lia. “Tapi aku pasti tidak dibolehkan untuk pergi sejauh itu menggunakan motor tanpa ada orang dewasa” Lia menjawab. “Ah sudah, tidak apa apa kok, lagian kan bukan kamu yang membawa motornya”. Lia terdiam sambil berfikir apa yang Veli katakan barusan. Dua menit telah berlalu, tetapi Lia juga tetap tidak memberikan jawaban apapun. “Aduhh kamu ini lama sekali mikirnya, ayo kita berangkat saja agar lebih cepat sampai di sana” kata Veli yang terlihat sudah bosan menunggu temannya itu untuk memberi jawaban. “Tapi...” belum selesai Lia berbicara, tangannya sudah ditarik duluan oleh Veli ke arah motorku. “Udah kamu naik saja sekarang, ayo Yuna, Naira, kita berangkat” tegasnya. Aku melihat Lia, dari raut wajahnya tergambar jelas bahwa ia tengah khawatir, aku menghampirinya.

“Kamu kenapa? Tidak mau ikut?” tanya ku.

“Bukan begitu, tapi aku sangat cemas jika pergi tanpa izin orang tua ku”.

“Kamu mau izin dulu?” aku memberinya pilihan.

Lia terdiam lagi, 30 detik kemudian dia melontarkan jawabannya “Enggak usah deh, kalau izin pasti aku tidak akan dibolehkan”. Mendengar jawaban Lia, aku mengangguk dan menaiki motorku yang dari tadi terparkir disebelah ku. “Ayo naik” kata ku kepada Lia. Lia pun menaiki motorku dan duduk di belakangku. Aku menyalakan mesin motor kemudian mulai mengendarainya dengan kecepatan 30Km/Jam.

Seperempat jam perjalanan, kami berempat sampai di jalan yang berbatu dan penuh lobang. Aku memelankan laju motor ku untuk menghindari bebatuan dan lubang-lubang itu. Tetapi, saking lambatnya, Veli meneriaki kami karena telah jauh tertinggal di belakang. “Naira, cepetan dong! Keburu sore nih!” Teriaknya sambil melihat ke belakang. Mendengar teriakan itu, aku mempercepat motor ku sambil mencoba menghindari lubang-lubang di jalanan itu. “Pelan-pelan saja bawanya” ucap Lia kepada ku. “Tapi kita bisa kelamaan kalau pelan-pelan, Yuna dan Veli sudah jauh di depan sana” balas ku sambil tetap melajukan kecepatan motor. Aku tidak menyadari ada lubang yang lumayan dalam tepat 4 meter di depan ku, mendadak ku tekan rem tangan baik kiri dan kanan, namun semua diluar kendaliku, motor ku tak sanggup lagi berkompromi dengan remnya. Kami jatuh, sambil merintih kesakitan aku mencoba melihat Lia. Tapi Aku tidak melihatnya di sekitar ku karena begitu banyak orang yang berkerumunan.

“Lia… Lia, kamu di mana? Teriak batin ku tetapi mulut ku tak sanggup mengeluarkan apapun. Gelap, bagai matahari yang ditelan bulan, aku tidak dapat merasakan dan mendengar apa-apa lagi. Aku terbangun, aku terbangun ditempat yang sangat asing bagiku, aku melihat orang tua ku, Yuna, dan Veli dengan mata sembab dan hidung kemerahan berdiri di samping ranjang ku. Dalam benakku, dimana Lia?. “Aku dimana?” ucap ku dengan nada yang terbata-bata. “Kamu ada dirumah sakit, Sayang”  balas Ibuku. Aku melihat orang tua Lia di luar ruangan tengah menangis tersedu-sedu.

“Dimana Lia?” tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan ku. Semua terdiam, wajah mereka semua tampak sangat sedih dan murung. “Dimana Lia?” aku mengulang pertanyaan ku. “Lia… Lia sudah tak tertolong lagi” Ucap Yuna dengan nada yang bergetar. Lantas semua orang yang ada diruangan itu terisak lagi termasuk Veli dan orang tua ku. Aku tidak percaya atas apa yang telah ku dengar dari Yuna, aku ingin membantahnya tapi mulut ku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya air mata ku yang bisa berbicara pada saat itu.

“Lia gak ada lagi ra, saat motor kalian tak mampu menghindari lubang itu. Lia jatuh ke jalan raya, namun saat itu tiba-tiba ada mini bus dengan kecepatan tinggi sehingga Lia tertabrak.” Veli membuka suara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ku dan Lia.

Jantung ku seolah-olah berhenti berdetak, bibir ku kaku, air mata yang semakin deras membasahi pelipis hingga rahang ku. Rasanya aku ingin memutar waktu kembali. Sulit untuk memaafkan diri ku sendiri atas kejadian itu. Tidak.. tidak.. Aku membunuh Lia! Akulah yang menyebabkan Lia meninggal. Batin ku terus memekik sampai aku mendengar dengingan yang membuat seluruh kepala ku terasa pusing. Aku memegang kepala ku dengan erat, mencoba menghentikan dengingan melengking itu dari telinga ku. Orang tua ku dengan cepat memanggil dokter dan beberapa saat kemudian dengingan itu mulai mereda. Aku diberi obat bius untuk sementara waktu sehingga aku terlelap lagi.

Sudah lima hari aku berada di rumah sakit. Aku melihat seorang perawat jalan memasuki kamar rawat inap dan mendekati ranjang ku. “Kondisi tubuh nya sekarang sudah normal, luka di tubuh nya juga sudah diatasi, harus rutin meminum antibiotic yang sudah diberikan, hari ini Naira sudah boleh pulang.” Ucap perawat itu kepada ibu ku lalu pergi meninggalkan ruangan. “Ayo Naira, kita pulang.” Ajak ibu ku. Aku duduk dan menurunkan kedua kaki ku. Sebelum aku benar-benar turun, aku mengajukan sebuah permintaan pada ibu ku. “Bu, tolong antarkan aku ke makam Lia”. Ibuku mengangguk mengiyakan keinginan ku itu.

Aku dan ibu turun disebuah pemakaman umum. Aku berjalan memasuki tempat tersebut dan melihat-lihat makam yang ada dikanan dan kiri ku. Ibu yang sedari tadi berjalan di depan ku, berhenti di depan salah satu makam. Aku melihat makam itu, terlihat masih baru, tanah disekeliling masih merah, masih terlihat sisa-sisa bunga yang dibawa pelayat. Ibuku menoleh kearah ku dan menunduk tipis mengisyarat kan bahwa itu adalah makam yang sedang aku cari. Aku paham, aku berlutut disamping makam itu dan berdoa di dalam hati. Aku mencoba merelakan Lia tetapi perasaan sedih dihati ku tidak bisa berbohong. Pelupuk mata yang sedari tadi sudah berusaha menahan air yang akan jatuh pun tak dapat menghentikannya.

Ibu memberi ku sekeranjang bunga kamboja untuk ditaburkan diatas makam Lia. Aku mengambilnya, menaburkannya sedikit demi sedikit sambil membacakan Al-Fatihah dalam hati ku.

Aku pulang dengan perasaan yang lebih lega.

 

0 Komentar