Tugas Guru dalam Pembelajaran


                Tugas Guru dalam Pembelajaran
    

Guru sebagai tenaga pendidikan memegang peranan yang penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan, karena guru berhubungan langsung dengan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Peningkatan mutu guru dalam aspek kemampuan personal, sosial, profesional, dan pedagogik perlu mendapatkan perhatian yang serius oleh pihak-pihak pengelola dan pemerhati pendidikan. Upaya peningkatan mutu guru ini merupakan salah satu komponen yang sangat penting bagi peningkatan kualitas pendidikan.
            Dalam menjalankan tugasnya, guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik diharapkan menguasai falsafah pendidikan, memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, serta keterampilan dan keahlian sesuai dengan bahan pelajaran yang akan diberikan pada peserta didik. khususnya bahan pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik. Selain itu, guru hendaknya memiliki persepsi filosofis dan rasa tanggung jawab serta bijaksana dalam menyikapi permasalahan sehubungan dengan tugasnya, mampu mengendalikan emosi, memahami orang lain, memotivasi diri, serta cermat dan ulet, dalam melaksanakan tugas.
            Tujuan akhir yang diharapkan dari seorang guru adalah keberhasilannya dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan secara umum. Maka dari itu, guru harus mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

1.        Tugas Guru
a.    Konsep Tugas Guru
Guru adalah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) antara lain berfungsi sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian. Sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional  No 20 tahun 2003, tugas guru antara lain; 1) membuat rencana pembelajaran, 2) melaksanakan pembelajaran, 3) melaksanakan evaluasi, 4) melaksanakan bimbingan dan latihan serta 5) melaksanakan manajemen kelas. Guru professional adalah guru yang harus memenuhi setiap tugas dan tanggung jawabnya. Berikut adalah rincian tentang tugas guru yang harus dilakukan:

1)   Membuat rencana pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi  antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Kunandar,2007: 287 ). Oleh sebab itu pembelajaran perlu dikelola dengan baik. Pembelajaran yang baik harus direncanakan dengan baik. Perencanaan pengajaran dalam rangka mempersiapkan alternatif-alternatif pemecahan masalah guna memenuhi kebutuhan pendidikan secara realistis harus berpedoman kepada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan secara jelas dan terinci (Harjanto, 2010:32)
Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merancang pembelajaran adalah:
1.    Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2.    Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa.
3.    Menentukan materi pelajaran.
4.    Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik, dsb.
5.    Menyajikan materi pelajaran. (Asri Budiningsih, 2008: 29-30)
Sementara itu, Hamalik (2010: 135) mengemukakan fungsi perencanaan mengajar sebagai berikut:
1.  Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu.
2.  Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.
3.  Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang dipergunakan.
4.  Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid, dan mendorong motivasi belajar.
5.  Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikuler yang lebih baik, metode yang tepat dan mengehemat waktu.
6.  Murid-murid akan menghormati guru yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapan-harapan mereka.
7.  Memberikan kesempata bagi guru-guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.
8.  Membantu guru memiliki perasaan percaya diri sendiri dan jaminan atas diri sendiri.
9.  Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up date kepada murid
Oleh karena itu, agar guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik maka perlu menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran yang dibuat akan menuntun guru untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2)   Melaksanakan pembelajaran
Setelah perencanaan pembelajaran disusun maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan pembelajaran. Menurut Ali (1996:7) menyatakan bahwa dalam melaksanakan proses pembelajaran guru dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan yang  bertalian dengan 1) penguasaan materi, 2) keterampilan menerapkan prinsip-prinsip psikologi, 3) kemampuan menyelenggarakan proses pembelajaran, 4) kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru. 
Sagala (2003:226-229) mengemukakan dalam kegiatan pembelajaran itu akan meliputi aspek; “a) tahap permulaan (Pra-Instruksional, b) tahap instruksional, dan c) tahap penilaian tindak lanjut”. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
(a)  Tahap Pra-Instruksional
        Merupakan tahapan yang ditempuh guru pada saat-saat ia masuk kelas untuk mengajar. Adapun yang dilakukan oleh guru pada tahap ini adalah;
a.    Menanyakan kehadiran peserta didik dan mencatat siapa yang tidak hadir.
b.    Menanyakan batasan pelajaran sebelumnya.
c.    Mengajukan pertanyaan kepada peserta didik di kelas tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya.
d.   Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum terkuasai.
e.    Mengulang kembali bahan pelajaran yang lalu secara singkat.
(a)  Tahap Instruksional
            Tahap pembelajaran ini disebut juga tahap inti, yakni tahapan yang membahas bahan yang telah disusun oleh guru sebelumnya. Kegiatan-kegiatannya adalah:
a.    Menjelaskan tujuan pelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik
b.    Menuliskan pokok-pokok materi yang akan dibahas hari itu materi tersebut hendaknya sesuai dengan silabus dan tujuan instruksional, sebab materi bersumber dari tujuan.
c.    Membahas pokok-pokok materi yang telah ditulis tadi. Dalam pembahasan  materi dapat  dimulai dari gambaran umum materi pelajaran menuju topik secara lebih khusus atau sebaliknya. Pemberian materi dari umum ke khusus akan lebih efektif, karena peserta didik mendapatkan gambaran secara keseluruhan materi yang akhirnya peserta didik tahu arah bahan pelajaran yang dibahas.
d.   Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh yang kongkrit.
e.    Penggunaan alat bantu pembelajaran untuk memperjelas pembahasan setiap pokok materi sangat diperlukan.
f.     Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.

(b)            Tahap Tindak Lanjut
                  Tahap ini disebut juga tahap penutup. Kegiatan dalam tahap ini dapat berupa:
a.    Mengajukan pertanyaan kepada kelas atau kebeberapa peserta didik mengenai semua pokok materi yang telah dibahas pada tahap kedua. Pertanyaan yang diajukan bersumber dari materi pelajaran.
b.    Apabila pertanyaan belum dapat dijawab peserta didik kurang dari 70% di antara peserta didik, maka guru harus mengulang kembali pembahasan materi yang belum dikuasai peserta didik.
c.    Untuk memperkaya pengetahuan peserta didik mengenai materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas pekerjaan rumah yang ada hubungannya dengan topik atau materi yang telah dibahas.
3). Melaksanakan evaluasi
Evaluasi pengajaran merupakan suatu komponen dalam system pengajaran, sedangkan system pengajaran itu sendiri merupakan implementasi kurikulum, sebagai upaya untuk menciptakan belajar di kelas, ( Hamalik, 2010: 145). Penilaian merupakan  usaha untuk memeriksa sejauhmana anak telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar. Fungsi utama evaluasi dalam kelas adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran. Selain itu evaluasi juga berfungsi menilai unsure—unsur yang relevan pada urutan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran, (Hamalik, 2010: 145).
Sementara menurut Purwanto (2011: 3) menyatakan bahwa penilaian adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan criteria tertentu. Evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar criteria. Evaluasi dilakukan setelah dilakukan pengukuran dan keputusan evaluasi dilakukan berdasarkan hasil pengukuran (Purwanto, 2010: 1)
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang evaluasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang dimulai dengan mengukur selanjutnya melakukan penilaian, sehingga kita dapat menarik suatu kesimpulan dari keadaan tersebut. Kesimpulan yang diambil itu terwujud dalam bentuk pengambilan keputusan untuk mengetahui keberhasilan peserta didik dan guru dalam melakukan pembelajaran.

            Hamalik (2010: 147) mengemukakan fungsi-fungsi pokok evaluasi sebagai berikut:
1.    Fungsi edukatif. Evaluasi adalah suatu subsistem dalam system pendidikan yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan system dan salah satu subsistem pendidikan. Bahkan dengan evaluasi dapat diungkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam proses pendidikan.
2.    Fungsi institusional. Evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat tentang input dan output pembelajaran disamping proses pembelajaran itu sendiri. Dengan evaluasi dapat diketahui sejauh mana siswa mengalami kemajuan dalam proses belajar setelah mengalami proses pembelajaran.
3.    Fungsi diagnostik. Dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa dalam proses/kegiatan belajarnya.
4.    Fungsi administratif. Evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang pada gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi (tanda kelulusan) dan untuk melanjutkan studi lebih tinggi dan atau kenaikan kelas.
5.    Fungsi kurikuler. Evaluasi berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan berdaya guna bagi pengembangan kurikulum.
6.    Fungsi manajemen. Komponen evaluasi merupakan bagiian integral dalam system manajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pimpinan untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjang manajemen.
4). Melakukan bimbingan dan latihan
Tugas berikutnya yang dapat dilakukan guru adalah melakukan bimbingan dan latihan. Menurut Ngalim Purwanto (2010: 170) bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang individu dari setiap umum, untuk menolong dia dalam mengatur kegiatan-kegiatan hidupnya, mengembangkan pendirian/pandangan hidupnya, membuat putusan-putusan, dan memikul beban hidupnya sendiri. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku ( Prayitno, 2004: 99).
Sementara itu menurut Dewa Ketut ( 2002: 19) dikatakan bahwa bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkunagan sekolah, keluarga, dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya.  
5). Melaksanakan Manajemen Kelas
Manajemen kelas atau dikenal juga dengan pengelolaan kelas. Dalam hal ini  Djamarah (2006:173) menyatakan manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Tujuan pengelolaan kelas menurut Djamarah (2006:178) adalah “penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas”.
Selanjutnya, Djamarah (2006: 186) mengemukakan dua komponen dalam keterampilan pengelolaan kelas yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajara yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandang secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap kegangguan dan ketidakacuhan. Sedangkan, yang termasuk pada ketrampilan memberikan perhatian adalah visual dan verbal. Secara visual, guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Secara verbal, guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktivitas peserta didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas peserta didik yang lain.
Selanjutnya yang termasuk pada ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal adalah masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Djamarah (2006:204) juga mengemukakan bahwa “agar terciptanya suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan /penataan ruang kelas/belajar hendaknya memungkinkan peserta didik duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu peserta didik dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar perlu diperhatikan:
(a)    Ukuran dan bentuk kelas
(b)   Bentuk serta ukuran bangku dan meja peserta didik
(c)    Jumlah peserta didik dalam kelas
(d)   Jumlah peserta didik dalam setiap kelompok
(e)    Jumlah kelompok kelas
(f)    Komposisi peserta didik dalam kelompok (seperti peserta didik pandai dengan peserta didik kurang pandai, pria dan wanita)
Berdasarkan uraian di atas maka indikator variabel pelaksanaan tugas guru adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, melaksanakan bimbingan dan latihan serta melaksanakan manajemen kelas.

b.   Pelaksanaan Tugas Guru

Guru memegang peranan penting dalam penyelenggaraan tugasnya terutama dalam proses belajar mengajar. Dimana kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pembelajaran masih tetap memegang peranan penting. Meskipun diakui sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, usaha peningkatan pendidikan terus dilakukan. Ada juga pembelajaran yang dilakukan melalui radio, televisi dan pembelajaran jarak jauh atau modul. Namun, peranan guru masih tetap diperlukan terutama dalam penyusunan dan pengembangan disain pembelajaran. Dapat dikatakan guru selalu menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan, hanya peran yang dimainkan yang berbeda sesuai dengan tuntutan sistem tersebut.
Lebih lanjut Sudjana (2004:12) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor, artinya pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di sekolah. Usman (2002:7) juga menyatakan bahwa “keberadaan guru merupakan faktor condisio sine qua non yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.
Dengan demikian, pelaksanaan tugas guru memegang peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Guru yang melaksanakan tugas dengan baik akan dapat menghasilkan peserta didik berkualitas yang memiliki kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik dalam berbagai disiplin ilmu.
c.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Tugas Guru.
Beberapa ahli mengemukakan berbagai faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas guru. Imron (1995:12) menyatakan pelaksanaan tugas guru dipengaruhi oleh adanya supervisi yang diberikan oleh kepala sekolah. Dalam hal ini, untuk meningkatkan kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan tugas guru maka kepala sekolah perlu memberikan pembinaan terhadap permasalahan dan kendala yang ditemuinya dalam pelaksanaan tugas.
Dengan kata lain, supervisi diharapkan dapat membantu guru untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam kerangka pelaksanaan tugas guru. Pemberian supervisi diharapkan dapat membantu guru untuk memperbaiki proses pembelajaran. Arikunto (2004:40) juga menyatakan bahwa pelaksanaan tugas guru dipengaruhi oleh supervisi yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja guru, terutama dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Pendapat di atas diperkuat oleh Anwar (2004:154) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaa tugas guru, maka guru perlu secara terus-menerus mendapatkan pembinaan dari kepala sekolah dalam hal pelaksanaan tugasnya. Sehingga, setiap kendala yang ditemui oleh guru dalam pelaksanaan tugas dapat dipecahkan secara bersama melalui bantuan dan pembinaan oleh kepala sekolah.
            Dalam pelaksanaannya, supervisi bukan hanya mengawasi apakah para guru/pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknnya sesuai dengan intruksi atau ketentuan-ketentuan yang telah digarikan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar-mengajar ( Ngalim Purwanto: 2010: 77).
d.   Kompetensi Tenaga Pendidik (Guru)
Kata kompetensi berarti seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dari seorang tenaga profesional (Sudarwan Danim, 2011:105/111). Dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2 menyebutkan pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi para pendidik pada perguruan tinggi.
Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai bahwa guru haruslah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Lebih lanjut Kunandar (2007:75) mengatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Suparlan (2006:82) mengemukakan sepuluh standar kompetensi guru, yaitu:
1.  Memiliki kebribadian sebagai guru.
2.  Menguasai landasan pendidikan.
3.  Menguasai bahan pelajaran.
4.  Menyusun program pengajaran.
5.  Melaksanakan proses belajar-mengajar.
6.  Melaksanakan penilaian pendidikan.
7.  Melaksanakan bimbingan.
8.  Melaksanakan administrasi sekolah.
9.  Menjalin kerjasama dan interaksi dengan guru sewajat dan masyarakat.
10.   Melaksanakan penelitian sederhana.
Profesionalisme merupakan proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu (Sudarwan Danim, 2011:105). Ada beberapa ciri-ciri guru profesional, yaitu:
b.   Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan.
c.    Memiliki pengetahuan spesialisasi.
d.   Menjadi anggota organisasi profesi.
e.    Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain atau klien.
f.     Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan.
g.    Memiliki kapasitas mengorganisasikan kerja secara mandiri atau self-organization.
h.   Mementingkan kepentingan orang lain.
i.      Memiliki kode etik.
j.     Memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas.
k.   Mempunyai sistem upah.
l.      Budaya profesional.
m. Melaksanakan pertemuan profesional tahunan.
2. Keberhasilan Pembelajaran
                                a. Belajar dan Pembelajaran
Menurut Dalyono,(2009:48) belajar dapat didefinisikan, “suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya”. Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.
Hintzman dalam buku psikologi pendidikan mengatakan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat memengaruhi tingkah laku organisme tersebut (Muhibbin Syah, 2010:88). Adapun penegrtian belajar secara kualitatif ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa. Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulkan:
1)   Belajar adalah suatu usaha secara sungguh-sungguh untuk mendayagunakan semua potensi yang dimiliki.
2)   Belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri.
3)   Belajar bertujuan untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik.
4)   Belajar bertujuan untuk mengubah sikap dari negatif menjadi positif.
5)   Dengan belajar dapat mengubah keterampilan.
6)   Belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.
Sedangkan pembelajaran adalah pengembangan dan penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan yang spesifik. Yusufhadi dalam Benny A. Pribadi (2010:9) menyatakan bahwa pembelajaran sebagai aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pembelajar. Walter Dick dalam buku yang sama  mendefinisikan pembelajaran sebagai rangkaian peristiwa atau kegiatan yang disampaikan secara terstruktur dan terencana dengan menggunakan sebuah atau beberapa jenis media.
Kegiatan atau aktivitas pembelajaran didesain dengan tujuan untuk memfasilitasi siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran. Pemebelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan, sedangkan pembelajaran yang efisien adalah aktivitas pembelajaran yang berlangsung menggunakan waktu dan sumber daya yang relatif sedikit. (Benny, 2010:19) Berikut dikemukakan kriterian pembelajaran yang berhasil atau sukses.
a.    Peran aktif siswa, proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa terlibat secara aktif dalam tugas-tugas yang bermakna, dan berinteraksi dengan materi pelajaran secara intensif.
b.    Latihan, latihan yang dilakukan dalam berbagai konteks dapat memperbaiki tingkat daya ingat atau retensi.
c.    Perbedaan individual, setiap individu memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari individu yang lain.
d.   Umpat balik, umpan balik sangat diperlukan oleh siswa untuk mengetahui kemampuan dalam mempelajari materi pelajaran yang benar.
e.    Konteks nyata, siswa perlu mempelajari materi pelajaran yang berisi pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam sebuah situasi yang nyata.
f.     Interaksi sosial, interaksi sosial sangat diperlukan oleh siswa agar dapat memperoleh dukungan sosial dalam belajar.
Guru merupakan komponen penting dalam pendidikan karena bertugas melaksanakan pembelajaran. Guru merencanakan, melaksanakan, pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar siswa. Beberapa prinsip pembelajaran yang menyenangkan sebagai berikut:
a.    Pembelajaran yang sudah dilaksanakan dengan baik belum tentu menyenangkan dan pembelajaran yang menyenangkan sudah tentu baik.
b.    Menyeimbangkan ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik dalam pembelajaran.
c.    Menyeimbangkan perkembangan otak belahan kiri dengan otak belahan kanan dalam pembelajaran.
d.   Menciptakan adanya rasa nyaman dalam pembelajaran.
e.    Menciptakan rasa aman bagi peserta didik dalam pembelajaran. Jika timbul rasa takut bagi siswa maka pembelajaran tersebut tidak menyenangkan bagi siswa.
f.     Menyelingi pembelajaran dengan rasa humor sehingga pembelajaran tidak terkesan menoton.
g.    Menyentuh aspek emosi atau perasaan dalam pembelajaran, misalnya adanya selingan musik dan nyanyian.
h.    Mengutamakan hadiah dari pada hukuman.
i.      Meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi dengan peserta didik dalam situasi pembelajaran, misalnya melalui senyuman,keramhtamahan, penghargaan.
j.      Menginformasikan bahwa kegiatan belajar bukan menyulitkan siswa tetapi bermanfaat untuk kehidupan mereka pada masa yang akan datang.
k.    Menghindari pemberian kata-kata ancaman.
l.      Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan adalah “seni”. (Zulfan Saam, 2011:56)
             b.     Pembelajaran yang Berhasil
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan, sedangkan pembelajaran yang efisien adalah aktivitas pembelajaran yang berlangsung menggunakan waktu dan sumber daya yang relatif sedikit. (Benny, 2010:19) Berikut dikemukakan kriterian pembelajaran yang berhasil atau sukses.
1.    Peran aktif siswa, proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa terlibat secara aktif dalam tugas-tugas yang bermakna, dan berinteraksi dengan materi pelajaran secara intensif.
2.    Latihan, latihan yang dilakukan dalam berbagai konteks dapat memperbaiki tingkat daya ingat atau retensi.
3.    Perbedaan individual, setiap individu memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari individu yang lain.
4.    Umpat balik, umpan balik sangat diperlukan oleh siswa untuk mengetahui kemampuan dalam mempelajari materi pelajaran yang benar.
5.    Konteks nyata, siswa perlu mempelajari materi pelajaran yang berisi pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam sebuah situasi yang nyata.
6.    Interaksi sosial, interaksi sosial sangat diperlukan oleh siswa agar dapat memperoleh dukungan sosial dalam belajar.

14 Komentar

  1. Post nya sangat membantu saya yang baru mulai mengajar, terimakasih :)

    BalasHapus
  2. Ilmu yang baru aku dapatkan cara mengajar dengan baik, artikel ini sangat bermanfaat lanjutkan terus menebarkan kebaikan.

    BalasHapus
  3. ini bener metode untuk menjadi guru yang baik dan favorit untuk mahasiswa...

    BalasHapus
  4. artikel ini membantu banget dalam penerapan metode menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya.

    BalasHapus
  5. memang artikel ini sangat bagus sekali dalam proses pengajar murid murid nya...

    BalasHapus
  6. saya akan coba terapkan ke murid murid saya dan terima kasih sudah post artikel ini jadi saya ada referensi...

    BalasHapus
  7. pedoman ilmu untuk mengajarkan murid murid yang lebih kreatif lagiii

    BalasHapus
  8. Artikel yang mendidik banget buat kita semua

    BalasHapus
  9. cara belajar yang baik bisa membuat murid makin semangat belajar

    BalasHapus
  10. pernah merasakan jadi guru walau cuma guru magang
    berat tapi menyenangkan :)

    BalasHapus
  11. Salut untuk pihak-pihak yang sudah mengabdi untuk negara, tetap semangat!

    BalasHapus
  12. Tulisan"nya sangat menginspirasi sekali.

    BalasHapus
  13. Tetap Semangat dalam mengabdi, Bu..

    BalasHapus