Pentingnya Pengelolaan Kelas untuk Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan



      
Pentingnya Pengelolaan kelas untuk Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan. Kegiatan pendidikan merupakan usaha mencapai cita-cita bangsa yakni untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan pondasi suatu bangsa. Pendidikan adalah lembaga yang dengan sengaja diselenggarakan untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan keahlian dari generasi yang lebih tua kepada generasi berikutnya. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan. Pendidikan juga mempunyai pengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini tidak saja karena pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga akan berpengaruh terhadap kegiatan masyarakat. 
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Berdasarkan konsep tersebut jelaslah bahwa hakikat pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik lewat proses pendidikan agar mampu mengakses peran mereka di masa yang akan datang. Ini berarti, membekali  peserta didik dengan keterampilan yang dibutuhkan sesuai tuntutan zaman.
Usaha dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan. Hal ini terlihat dari berbagai inovasi yang telah dilakukan seperti penyempurnaan kurikulum, pembenahan manajemen dan pemberian kesempatan kepada pegawai untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, merancang pendidikan yang mampu mengembangkan kreativitas siswa, melengkapi sarana dan prasarana, melakukan berbagai terobosan-terobosan, adanya program wajib belajar 9 tahun, mengembangkan metode pembelajaran dan usaha-usaha lainnya.
Pencapaian sasaran program wajib belajar 9 tahun, pemerintah telah menyusun strategi, antara lain meningkatkan jumlah dan daya tampung , mengangkat guru baru, menyediakan lebih banyak sarana belajar, mengajukan anggaran yang lebih besar untuk pendidikan, membebaskan uang sekolah dan mensubsidi sekolah swasta. Strategi lainya yang lebih penting adalah dengan mengembangkan sistem pendidikan alternatif. Strategi pendidikan alternatif ini didasarkan atas adanya pertimbangan bahwa meskipun kapasitas sekolah telah ditingkatkan, masih banyak anak belum  tertampung,   antara  lain  karena  kondisi  perekonomian keluarga yang kurang mampu.
Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan menuntut keselarasan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menghadapi tantangan iptek tersebut dibutuhkan sumber daya yang mampu berkompetisi dan memiliki keterampilan yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif.
Sekolah bukan tempat untuk menumpahi murid dengan tumpukan informasi tetapi melatih kematangan berpikir serta kedewasaan bersikap. Namun hal ini kurang diperhatikan oleh sekolah-sekolah pada umumnya. Selama ini proses belajar mengajar hanya mengembangkan fungsi otak kiri saja dan mengabaikan perkembangan otak kanan. Oleh sebab itu sekarang ini pemerintah menggalakkan program pendidikan yang mampu menjadikan peserta didik lebih aktif dan kreatif. Berbagai metode pembelajaran harus diterapkan. Guru dituntut untuk menggunakan metode yang bervariasi sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
Kreativitas peserta didik dipandang perlu dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Kreativitas merupakan sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam suatu tindakan. Hasil-hasil baru muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lainnya. Kreativitas belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dari hasil interaksi lingkungan yang memunculkan hasil-hasil positif dalam belajar.
Salah satu usaha yang dilakukan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan merancang pembelajaran yang menyenangkan dan menata kelas dengan baik sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Pengelolaan kelas yang baik dapat mengurangi kesempatan terjadinya gangguan kebosanan, serta meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Manajemen atau pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya, dimana kegiatan proses belajar mengajar bisa berjalan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditentukan.
Lingkungan belajar yang baik akan mendukung peserta didik untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik pula. Manajemen kelas merupakan aspek penting bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Pada hakikatnya tujuan manajemen kelas adalah mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang efektif dan menyenangkan, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dan mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual peserta didik di dalam kelas. Menyediakan dan mengatur berbagai fasilitas yang mendukung yang memungkinkan siswa belajar dan bekerja, mengembangkan terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, mengembangkan suasana disiplin serta mengembangkan sikap dan apresiasi para siswa.
Keberhasilan manajemen kelas yang dilakukan oleh guru bisa didukung oleh berbagai faktor. Diantaranya faktor sekolah dan juga faktor pribadi guru sendiri. Jika guru mempunyai kemampuan dan benar-benar ingin melakukan pengelolaan kelas dengan sungguh-sungguh tentu hasilnya juga akan baik, namun jika guru hanya fokus pada kegiatan mengajar saja dan kurang memperhatikan kegiatan manajerial kelas maka kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan dengan maksimal. Selain itu, faktor sekolah juga turut memegang peranan dalam penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai. Jika di sekolah tersedia fasilitas yang memadai tentu guru juga akan semakin mudah untuk melakukan manajemen kelas dengan lebih maksimal.
1. Pengelolaan Kelas
a.    Pengertian Pengelolaan Kelas

Menurut Djamarah dan Zaini dalam Martinis (2011: 37) secara sederhana pengelolaan kelas berarti kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas adalah seni atau praktis ( praktik dan strategis) kerja yaitu guru bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain ( misalnya bekerja dengan sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi pencapaian proses pembelajaran yang efektif ( Sudarwan Danim,2002: 167). Sedangkan menurut Winzer dalam Martinis (2011: 36) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh pembelajar dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
Pengelolaan kelas atau dikenal juga dengan pengelolaan kelas. Dalam hal ini  Djamarah (2006:173) menyatakan pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Secara istilah, pengelolaan kelas berasal dari bahasa inggris “ Classroom Manajement”. Classroom berarti kelas sedangkan Manajement berarti kepemimpinan, ketatalaksanaan, penguasaan maupun pengurusan. Pengelolaan kelas diartikan sebagai kepemimpinan atau ketatalaksanaan guru dalam praktek penyelenggaraan kelas. Menurut Moh. Uzer Usman (2006:97) mengemukakan bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Menurut  Haryanto, (2003: 81) pengelolaan kelas adalah usaha menciptkan kelas agar terwujud suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menciptakan, mengkondisikan serta mengembalikan suasana kelas dan belajar siswa yang efektif agar tetap menyenangkan dan optimal. Penerapan pengelolaan kelas harus dilakukan dengan baik agar tercipta tujuan yang diinginkan. Pengelolaan kelas pada kelompok eksperimen yaitu dengan menerapkan kedua jenis pengelolaan kelas baik secara fisik maupun pengaturan siswa. Pengelolaan kelas secara fisik dilakukan mengatur tempat duduk siswa, menata ruangan kelas, mengatur waktu dan media pembelajaran, dan menciptkan disiplin kelas, sedangkan untuk pengaturan siswa dilakukan dengan dua langkah yaitu (1) tindakan pencegahan dan (2) tindakan korektif.
Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif ( Syaiful Bahri Djamarah, 2002: 195). Berdasarkan pernyataan tersebut, dalam suatu pembelajaran diperlukan adanya pengelolaan kelas yang efektif serta optimal. Pengelolaan kelas yang dilakukan bukan hanya pengelolaan kelas secara fisik melainkan pengelolaan kelas dengan pengaturan siswa.
b.   Tujuan Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dilakukan agar suasana belajar di kelas tetap menyenagkan. Adapun tujuan pengelolaan kelas menurut Djamarah (2006: 178) adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan tersebut akan berpengaruh pada terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, dan perkembangan intelektual.
Menurut Suharsimi Arikunto dalam Djamarah (2006: 178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:
1.    Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
2.    Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib.
Berbagai tujuan pengelolaan kelas tersebut, mengacu pada penciptaan kondisi belajar yang efektif dan menyenangkan. Kondisi kelas tersebut mampu menunjang semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Siswa yang memiliki semangat tinggi dalam mengikuti pembelajaran, akan berpengaruh terhadap pemahaman serta prestasi belajar siswa.
Tujuan pengelolaan kelas menurut ( Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen 1996):
1.      Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.      Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3.      Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4.      Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individualnya. (Ade Rukmana,  43)
Tujuan pengelolaan kelas menurut Djamarah (2002:199) adalah “untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan peserta didik berbuat sesuai dengan kemampuannya”.
c.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Kelas
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas menurut Martinis Yamin (2011:42-45) yaitu:
1.      Kondisi fisik. Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran, lingkungan fisik yang dimaksud meliputi:
1)      Ruang tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
2)      Pengaturan tempat duduk.
3)      Ventilasi dan pengaturan cahaya.
4)      Pengaturan  penyimpanan barang-barang.
2.      Kondisi sosio- emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran.
1)      Tipe kepemimpinan
2)      Sikap guru
3)      Suara guru
4)      Pembinaan hubungan baik
3.      Kondisi organisasi
Kegiatan rutin secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Penataan ruang kelas dan sekolah, beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
1)      Ukuran ruang kelas
2)      Jumlah siswa
3)      Tingkat kedewasaan siswa.
4)      Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa.
5)      Toleransi masing-masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa.
6)      Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong
7)      Pengalaman siswa dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong.
d.      Ruang Lingkup Pengelolaan Kelas
Menurut Suharsimi Arikunto ( 1992: 68) ruang lingkup pengelolaan kelas dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1). Pengelolaan yang menyangkut siswa.
2)      Pengelolaan fisik
Selanjutnya, Djamarah (2006:186) mengemukakan dua komponen dalam keterampilan pengelolaan kelas yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajara yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandang secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap kegangguan dan ketidakacuhan. Sedangkan, yang termasuk pada ketrampilan memberikan perhatian adalah visual dan verbal. Secara visual, guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Secara verbal, guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktivitas peserta didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas peserta didik yang lain.
Selanjutnya yang termasuk pada ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal adalah masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Djamarah (2006:204) juga mengemukakan bahwa “agar terciptanya suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan /penataan ruang kelas/belajar hendaknya memungkinkan peserta didik duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu peserta didik dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar perlu diperhatikan:
(a)    Ukuran dan bentuk kelas
(b)   Bentuk serta ukuran bangku dan meja peserta didik
(c)    Jumlah peserta didik dalam kelas
(d)   Jumlah peserta didik dalam setiap kelompok
(e)    Jumlah kelompok kelas
(f)    Komposisi peserta didik dalam kelompok (seperti peserta didik pandai dengan peserta didik kurang pandai, pria dan wanita)
Berdasarkan uraian di atas maka indikator variabel pelaksanaan tugas guru adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, melaksanakan bimbingan dan latihan serta melaksanakan manajemen kelase.       
Berdasarkan uraian di atas maka indikator variabel pelaksanaan tugas guru adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, melaksanakan bimbingan dan latihan serta melaksanakan manajemen kelas.

 Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

Interaksi di dalam kelas yang terjadi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa tergantung pada pendekatan yang digunakan guru dalam mengelola kelas. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006: 179) mengemukakan bahwa adanya interaksi yang optimal tergantung pada pendekatan yang digunakan oleh guru dalam melakukan pengelolaan kelas, antara lain:
1)   Pendekatan Kekuasaan
2)   Pendekatan Ancaman
3)   Pendekatan Kebebasan
4)   Pendekatan resep
5)   Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
6)   Pendekatan suasana emosional dan hubungan social.
7)   Pendekatan proses kelompok.
8)   Pendekatan electis atau pluralistic

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Dalam suatu kelas terdapat berbagai permasalahan yang sering timbul. Guna mengurangi permasalahan tersebut, guru harus memiliki prinsip pengelolaan kelas, menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006:185) mengemukakan prinsip-prinsip pengelolaan kelas meliputi:
1)      Prinsip hangat dan antusias.
2)      Prinsip tantangan
3)      Prinsip bervariasi.
4)      Prinsip keluwesan.
5)      Prinsip disiplin diri.
6)      Penekanan pada hal yang positif.

Prinsip tersebut digunakan agar suasana di kelas serta interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dapat berjalan dengan baik. Selain itu, berbagai prinsip pengelolaan kelas mampu menciptkan rasa nyaman bagi siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang efektif mampu menciptakan kondisi kelas yang efektif. Kondisi kelas yang efektif akan menimbulkan suasana yang menyenagkan serta menghindari timbulnya rasa bosan pada siswa.

Komponen-Komponen Keterampilan pengelolaan Kelas
Djamarah (2006: 186) mengemukakan dua komponen dalam keterampilan pengelolaan kelas yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajara yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandang secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap kegangguan dan ketidakacuhan. Yang termasuk pada ketrampilan memberikan perhatian adalah visual dan verbal. Secara visual, guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Secara verbal, guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktivitas peserta didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas peserta didik yang lain.
1)   Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
a.       Sikap tanggap
b.      Membagi perhatian
c.       Memusatkan perhatian  kelompok
2)   Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal
a.          Modifikasi tingkah laku.
b.          Pendekatan pemecahan masalah kelompok.
c.         Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah


 Beberapa Masalah Pengelolaan kelas

            Menurut Made Pidarta dalam Djamarah (2006: 195) masalah-masala pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1)   Kurang kesatuan.
2)   Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok.
3)   Reaksi negative terhadap anggota kelompok.
4)   Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya.
5)   Mudah mereaksi negative.
6)   Moral rendah, permusuhan, dan agresif.

7)   Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungaan yang berubah.

2. Suasana Belajar
a.      Konsep Suasana Belajar
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, suasana mempunyai arti (1) keadaaan di sekitar sesuatu / keadaan di lingkungan sesuatu, (2) keadaan suatu peristiwa. Suasana belajar atau suasana kelas dapat juga diartikan sebagai situasi atau kejadian yang sering terjadi waktu belajar di dalam kelas ketika siswa mengikuti kegiatan pembelajaran. Suasana kelas merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan prestasi siswa. Suasana belajar yang gaduh akan mengganggu siswa dalam mengikuti pembelajaran. Agar siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik maka sangat perlu diciptkan suasana belajar atau suasana kelas yang nyaman dan tenang supaya siswa dapat berkonsentrasi secara penuh dalam memahami pelajaran yang diberikan guru.
Guru bertanggung jawab untuk memastikan anak-anak dapat menggunakan tempat untuk belajar dan bermain dengan mudah dan cukup nyaman. Untuk melakukan aktivitas pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan dibutuhkan suhu udara yang segar dan penerangan yang mencukupi, ( Rita Mariyana, 2009: 86). Suasana psikologis yang harus diciptakan pada fasilitas pembelajaran adalah suasana yang menyerupai suasana rumah. Hal ini dimunculkan agar anak-anak merasa nyaman, bebas bergerak ke sana ke mari, menyenangkan, dan bukan hanya duduk dalam tempat yang sama sepanjang tahun. Para pengajar dapat bergerak di antara anak-anak, tidak hanya duduk, berdiri di belakang atau di depan ruangan, atau diam di tempat permanen.
Sementara menurut Dimiyati (2013: 35) suasana lingkungan belajar meliputi kondisi gedung sekolah, ruang kelas, yang mempunyai pengaruh pada kegiatan belajar. Disamping itu kondisi fisik tersebut, suasna pergaulan di sekolah juga berpengaruh pada kegiatan belajar. Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana ( Kemendikbud, 2007: 4) dijelaskan bahwa keadaan bangunan gedung sekolah untuk sekolah dasar yang memiliki 15 sampai dengan 28 siswa per rombongan belajar dengan 7-12 banyaknya rombongan belajar. Bagunan memenuhi ketentuan rasio minimal luas lantai terhadap siswa sebesar 3.3 m / siswa.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan siswa dapat berkelompok dan memudahkan guru bergerak leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam masalah penataan ruang kelas ini beberapa hal yang perlu mendapat pembahasan adalah masalah pengaturan tempat duduk, pengaturan alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas, kenyamanan saat belajar dan ventilasi serta cahaya.
b.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suasana Belajar
1.      Mengatur kebersihan kelas.
2.      Pemenuhan meja dan kursi siswa.
3.      Penataan ruang kelas dengan poster
4.      Adanya slogan-slogan
5.      Kebersihan meja dan kursi siswa.