Tips Memilih Penitipan Si Buah Hati


Assalamualaikum wr.wb.
Semangat pagi para pejuang keluarga.
Meskipun aku menulis artikel ini siang hari tapi aku tetap menyapa semua dengan ucapan semangat pagi..hihihi
Kenapa???
Biar semuanya tetap semangat membaca postingan ini sama halnya ketika teman-teman bersemangat menyambut pagi yang cerah...

Artikel ini aku tulis ketika menunggu mahasiswa yang belum datang. Seperti biasa, di kotaku curah hujan lebih tinggi akhir-akhir ini sehingga mereka terlambat sampai di kampus. Aku masih sendiri. Mau ngapain??? Bingung juga..tanpa pikir panjang aku ngintip blog yang sudah aku buat bulan lalu.
Tiba-tiba aku teringat.
Curahan hati salah satu teman sekaligus tetanggaku. Dia mulai bekerja. Dia bingung dan terkadang menangis kalau harus meninggalkan jagoan kesayangannya. Pikiranku jadinya melayang.... Nun jauh...
Kembali ke masa dahulu.

Oh ya, aku adalah salah satu ibu dari ribuan bahkan jutaan ibu-ibu yang bekerja. Sebelum menikah dan mempunyai anak, sedikitpun tidak terbersit dibenakku bagaimana dilema seorang ibu yang harus menjaga anak sekaligus bekerja. Hingga tibalah masanya, aku diamanahkan oleh Allah untuk menjadi ibu dari seorang putri cantikku.

Awal-awal persalinan tidak ada masalah. Orang tua dan mertua pastinya akan mengurus semuanya. Maklum anak pertama. Biasanya kita dimanjah...bak ratu yang tidak boleh bekerja ini dan itu, hehehehe.Palingan juga ibu-ibu muda mengeluh karena si baby gak pakai tidur kalau malam, malamnya berganti dengan siang. Ada yang sama dengan ku???

Memang sih, anak Perempuanku itu, mulai dari 0- 1 bulan pertama gak pakai tidur malam. Kalau jarum jam menunjukkan pukul 22.00 wib maka dia akan bangun dan akan tidur jika azan subuh berkumandang. Begitulah sampai usianya satu bulan...hihihihi..akhirnya aku ceritain juga yah..

Pejuang keluarga yang berbahagia...

Problema di atas barangkali dilalui hampir seluruh ibu- ibu yang baru melahirkan. Namun yang sangat menguras pikiran seorang ibu yang bekerja adalah ketika si baby sudah berumur dua atau tiga bulan. Si ibu tadi harus kembali ke tempat kerjanya.

Begitu kan yak moms????

Gak papa kok ngangguk,hehehe,  kenyataannya memang seperti itu kann. Sok tahu aja ya diriku.

Moms...
Ketika kita harus kembali bekerja karena masa cuti sudah habis, maka kita akan dihadapkan pada persoalan baru. Ini si baby mau dititipkan ke siapa? Yang jagain siapa? Rasanya juga gak etis ya kalau orang tua kita yang jagain. Biarkanlah orang tua kita menikmati masa tuanya tanpa diberikan beban lagi untuk menjaga cucunya.

Ada dua alternatif biasanya dipilih oleh ibu-ibu yang bekerja.

1. Mencari baby sitter
2. Menitipkan si buah hati di tempat penilitipan anak (TPA)

Nah, moms  pilih yang mana??
Aku sih dua-duanya...hahaha...dasar aku..

Baiklah...

Begini kisahku

Awal-awal aku mulai kembali mengajar, kesepakatan kami cieee...cieee ( aku dan suami ) anak kami akan dijaga seseorang di rumah. Artinya kita mencari seseorang yang akan datang ke rumah untuk menjaga si kecil. Nah, untuk itu kita harus benar- benar mencari orang yang mampu untuk menjaga si baby tadi. Pertimbangan demi pertimbangan, akhirnya anak kami dijaga oleh seorang ibu yang sudah memiliki 3 orang anak. Yesss... Ini kami putuskan karena si ibu sudah berpengalaman menjaga anak bayi tentunya.

Akhirnya lumayan lega. Aku bisa kembali ke sekolah dengan tenang. Namun, ada kalanya aku harus berpikir lebih cepat dan tepat. Namanya juga manusia. Pasti selalu ada halangan dan rintangan. Kadang aku sakit sehingga minta izin tidak bisa datang ke sekolah. Terkadang justru si baby yang sakit, dan mau tidak mau kita juga harus minta izin untuk tidak datang ke tempat kerja. Nah ini dia terkadang yang bikin pikiran aku runyam. Mendadak, yang menjaga anak kita yang minta izin karena anaknya sakit, atau si ibunya sendiri yang sakit. Bahkan tidak tertutup juga kemungkinan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh ibu yang menjaga anak kita.

Mau dibawa ke sekolahkah si baby???

Mulai pusing deh..

Sebenarnya kalau tidak mendadak si tidak apa-apa ya, kita masih bisa berpikir untuk mencari solusi. Yang mendadak ini bikin aku harus berpikir tingkat tinggi nih.
Hal itu aku alami beberapa kali. Kadang sih justru kita yang merasa kurang enak ya sama pimpinan karena sering minta izin,walaupun  dikasih izin kok.
Untuk itu, aku sekarang lebih memilih opsi yang ke dua yah...

Menitipkan si kecil di TPA ( tempat penitipan anak )

Ini dia tips yang aku lakukan untuk menitipkan si kecil.

Yeaaaa...
Tapi tunggu dulu yah.. ini yang ditunggu sudah datang.
Makan gorengan dulu yuk...

Tips Memilih Penitipan buat Si Kecil

 1. Pilih Penitipan Terdekat dari Rumah


Memilih tempat penitipan yang paling dekat dengan rumah merupakan keharusan. Hal ini tentunya supaya kita akan lebih mudah mengantar dan menjemput anak. Disamping memudahkan kita untuk mengantar jemput, hal yang paling penting adalah kita sudah mengenal semua komponen yang ada di tempat penitipan tersebut. Kita mengenal guru-gurunya, pengasuh serta pihak yayasannya.
So..moms tentu paham hal ini yah.

2.  Lingkungan yang Nyaman


Lingkungan yang nyaman harus menjadi pertimbangan yang paling utama ya moms. Bagaimana pun kita harus mencari tempat penitipan anak yang lingkungannya mendukung untuk perkembangan si buah hati. Misalnya harus ada area bermain buat anak- anak. Ada tempat tidur atau tempat istirahat bagi anak. Apalagi bagi moms yang bekerja sampai sore, tentunya hampir seharian di kecil berada di tempat penitipan ya.

3. Tenaga pengasuh atau pendidik


Sebelum menitipkan si kecil di suatu tempat, moms sebaiknya mencari info dulu tentang tim pengasuh atau pendidik. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan si kecil ya moms. Salah satu keuntungan bagi moms menitipkan si kecil di penitipan adalah si kecil dari dini sudah belajar bersosialisasi. Dalam hal ini pengasuh atau pendidik sangat berperan penting. Pengasuh harus orang- orang yang bisa memperlakukan anak-anak sesuai umurnya.

4. Sistem Pengajaran yang Diterapkan


Selain sekadar menitipkan si kecil, bagusnya penitipan tersebut juga menerapkan sistem pengajaran yang dilakukan. Moms tentunya ingin memperoleh informasi perkembangan si kecil saat bersosialisasi dengan teman-temannya. Kemajuan- kemajuan yang dicapai si kecil jangan sampai luput dari pengamatan sang pengasuh. Oleh sebab itu sebaiknya kita memilih tempat penitipan di kecil yang mempunyai sistem pengajaran sendiri dan memberikan laporan kepada orang tua.

5. Kebersihan Penitipan



Pastikan kebersihan tempat penitipan si kecil dijaga dengan baik. Anak usia dini sangat rentan dengan penyakit. Lingkungan yang kurang bersih tentunya menjadi incaran bagi  virus-virus ataupun bakteri yang akan menyerang si kecil.

Foto by. www.pixabay.com

Yakkk.

Itulah tips yang aku lakukan buat anakku Dysha Assifa Utari dan Mohammad Aqsha Al Khalifi
Semoga bermanfaat.

0 Komentar