Menyelami Pola Pikir Pak Menteri: Merdeka Belajar


Menyelami Pola Pikir Menteri Pendidikan Nadiem Makarim: Merdeka Belajar




Kehadiran nama Nadiem Makarim di jajaran menteri kabinet kerja II tentunya menghadirkan polemik dan kontroversi, terutama di dunia pendidikan. Menteri termuda dengan latar belakang yang cukup “eksentrik” untuk dunia pendidikan memang selalu hangat dibicarakan. Bukan anget-anget kuku yah… hmmm ambil nafas dulu.

Terpilihnya nama beliau tentu sudah melalui proses dan pertimbangan yang panjang. Pastinya bapak presiden kita memiliki standar dan harapan yang besar pada sosok sang menteri yang sukses di bidang industri ekonomi kreatif. Kesuksesan beliau di Go-Jek membawa nama Nadiem dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia, versi majalah Globe Asia.

Sedikit Kontroversi 
        
23 Oktober 2019 secara resmi Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet kerja II. Nama Nadiem Makarim semakin melejit. Dalam pidato menteri pendidikan dalam rangka Hari Ulang Tahun Guru, beliau mengusung konsep pendidikan “ Merdeka Belajar”. Namun ketika teks pidato tersebut mulai beredar dan dibacakan saat upacara bendera, berbagai kritikan mulai bermunculan, salah satu dari ibu Dyah Ayunda ( Sekretaris Umum PP FKGIPS Nasional PGRI ). Berikut ulasannya:

1.     “ Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitar, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan”

Pernyataan menteri dikritisi oleh ibu Dyah, dengan alasan bahwa dalam kurikulum K 13 tidak pernah mengharuskan belajar di dalam kelas, namun bisa juga di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas tentunya perlu didesain sedemikian rupa sehingga pembelajaran itu mampu mengakomodasi tujuan pembelajaran dengan waktu yang tersedia. Dalam surat terbuka tersebut ibu Dyah juga mencontohkan bahwa pendidikan pramuka adalah salah satu aktualisasi dari konsep pendidikan di luar kelas yang memungkinkan peserta didik untuk  berpetualangan.

Dalam hal ini, saya sebagai tenaga pendidik sangat setuju. Dalam kurikulum K 13 tidak lagi mengusung pola pendidikan yang sifatnya menghapal. Konsep dari kurikulum K 13 adalah membiasakan peserta didik untuk berfikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek mental di dalamnya.

2. Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghapal”

Dalam hal ini, pernyataan menteri Nadiem  Makarim rasanya agak terlambat ( menurut saya sih..) karena pemerintah melalui fasilitator gencar mensosialisasikan pembelajaran abad 21. Diklat PKP ( Peningkatan Kompetensi Pembelajaran ) merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 ini mengutamakan kemampuan bernalar bukan lagi menghapal. Peserta didik diharapkan peka terhadap fenomena yang terjadi di sekitar.

Sebagai pendidik, saya merasakan bahwa pemerintah telah berupaya menuju pembelajaran yang menyenangkan, konsep pembelajaran HOTS sudah direncanakan jauh-jauh hari. Hanya saja dalam implementasinya masih banyak kendala. Harapan saya sih, sebaiknya program ini tetap berlanjut sehingga pembelajaran HOTS abad 21 terealisasi di lapangan.

3.      “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi”

Sebenarnya tujuan dari kurikulum K 13 memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk berinovasi dan berkreasi. Hanya saja dalam pelaksanaannya guru masih perlu bimbingan sehingga harapan pemerintah bisa terwujud.

Konsep “ Merdeka Belajar”      
Siaran Pers

Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem, menetapkan empat program pokok pendidikan “Merdeka Belajar”. Empat pokok tersebut meliputi:

1.     Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)
2.     Ujian Nasional ( UN)
3.     Rencana pelaksanaan Pembalajaran (RPP)
4.      Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi

Berdasarkan empat pokok pendidikan “Merdeka Belajar” tersebut, yang menjadi sorotan saya sebagai guru adalah RPP. Penyusunan RPP akan dipangkas dan disederhanakan.

“Kemendikbud akan menyederhanakannya dengan memangkas beberapa komponen. Dalam kebijakan baru tersebut, guru bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP. Tiga komponen inti RPP terdiri dari tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan assesmen”.


Berdasarkan pernyataan di atas, saya justru kembali berfikir, bukankah selama ini guru juga diberi kebebasan dalam mengembangkan RPP? Tiga komponen inti tersebut tetap sama yaitu, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan penilaian. Hanya saja dalam RPP di K 13 diuraikan lebih lengkap yaitu identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, sumber belajar. Sehemat saya, 11 komponen RPP ini saling terkait dan sangat dibutuhkan biar konsep pembelajaran itu terarah.

1.      Identitas Mata Pelajaran

Ini merupakan pembeda antar mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Ibaratnya ini adalah judul yang menggambarkan RPP itu untuk mata pelajaran apa. Identitas mata pelajaran ini meliputi satuan pendidikan, kelas, semester, mata pelajaran dan alokasi waktu.

2.      Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah acuan yang harus dicapai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Merupakan kualifikasi kemampuan minimal yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam setiap semester.

3.      Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar adalah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

4.      Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator adalah perilaku yang dapat diukur untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar. Indikator ini dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional. Berikut ketentuan perumusan indikator.

a.         Indikator dirumuskan dari KD
b.         Menggunakan kata kerja operasional (KKO) yang dapat diukur
c.         Dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas dan mudah dipahami.
d.        Tidak menggunakan kata yang bermakna ganda
e.         Hanya mengandung satu tindakan.
f.          Memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi & kebutuhan peserta didik, sekolah, masyarakat dan lingkungan/daerah.

5.      Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah hasil yang diharapkan yang dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

6.      Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan sesuai dengan indikator.

7.      Alokasi waktu

Alokasi waktu sesuai dengan keperluan untuk mencapai kompetensi dasar.

8.      Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah cara guru untuk mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan sehingga proses pembelajaran itu tidak menoton dan membosankan agar peserta didik mencapai kompetensi dasar. Metode pembelajaran ini biasanya disesuaikan oleh guru dengan situasi dan kondisi di masing-masing sekolah.

9.      Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran adalah serangkaian proses yang dilakukan dalam mencapai kompetensi.  Ada tiga tahapan di sini yaitu, pendahuluan, inti dan penutup.

10.  Penilaian

Setiap proses pembelajaran tentu adanya penilaian yang dilakukan yang mengacu pada standar penilaian. Penilaian meliputi nilai sikap, pengetahuan dan keterampilan.

11.  Sumber belajar

Sumber belajar adalah semua hal yang digunakan untuk proses pembelajaran. Berbagai sumber belajar dimanfaatkan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan komponen RPP di atas, tampak sekali kalau semua komponen itu saling terkait. 
Jadi untuk merumuskan RPP perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.      Perbedaan individual peserta didik.

2.      Partisipasi aktif peserta didik.

3. Berpusat pada peserta didik untuk 
   mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.

4.Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,
 pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

5.    Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

6.Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

7.Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran,  lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

8.Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.


Semakin jelas dan semakin terarah sangat memungkinkan seorang guru untuk berperan di dalam kelas. Kalau menurut pak menteri akan dipangkas dan disedehanakan, kira-kira bagian mana yang perlu dihilangkan???

Kita tunggu saja episode selanjutnya.
tidak sabar menunggu realisasi "Merdeka Belajar"

Santaiiii ajaaa…mari istrahat

Selamat belajar buat siswa se Nusantara



Sukses buat anda semuanya

4 Komentar

  1. Setuju.
    Mari kita menyelami pola pikir Bapak Menteri.
    Tapi secara naluri, aku percaya, ini muaranya ingin menjadikan dunia pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, karena masih hitungan hari pak menteri menjabat jadi masih perlu dipahami konsep yg diusung pak menteri. Tetap yakin kalau harapan pak menteri dan kita semua untuk memperbaiki dunia pendidikan

      Hapus
  2. Salah satu menteri terbaik pendidikan sepanjang masa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Semoga harapan kita semua bisa terwujud...aamiin

      Hapus