Perlukah Program Pengembangan Diri di Sekolah???



PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI SEBAGAI SALAH SATU ASPEK DALAM UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Beragam program inovatif ikut serta memeriahkan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan adalah restrukturisasi pendidikan, yakni memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan pemerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola mengembangkan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model-model pembelajaran.
Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam sektor kurikulum, baik struktur maupun prosedur perumusannya. Pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktik pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Indikator pembaharuan kurikulum ditunjukkan dengan adanya perubahan pola kegiatan pembelajaran, pemilihan media pendidikan, penentuan pola penilaian yang menentukan hasil pendidikan.
Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh bayak hal. Diantaranya adalah  kemampuan guru atau sekolah yang akan menerapkan dan mengaktualisasikan kurikulum, program bimbingan belajar yang diberikan, dan proses pengembangan diri. Kemampuan guru tersebut terutama berkaitan dengan pegetahuan dan kemampuan, serta tugas yang dibebankan kepadanya. Tidak jarang kegagalan pembelajaran disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan guru dalam memahami tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berfungsinya pembelajaran terletak pada bagaimana pelaksanaan di sekolah, khususnya di kelas dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan kunci keberhasilan tersebut. Sedangkan bimbingan belajar diupaya juga dapat meningkatkan kreatvitas peserta didik sehingga pembelajaran akan menyenangkan dan lebih aktif. Sementara itu sekolah juga perlu membuat program-program pengembangan diri yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kreativitas peserta didik.
Kreativitas peserta didik dipandang perlu dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Kreativitas merupakan sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam suatu tindakan. Hasil-hasil baru muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lainnya. Kreativitas belajar adalah suatu perubahan tingkah laku dari hasil interaksi lingkungan yang memunculkan hasil-hasil positif dalam belajar. 

Pengertian Pengembangan Diri
Penggunaan istilah pengembangan diri dalam kebijakan kurikulum memang relative baru. Jika menelaah literature tentang teori-teori psikologi, khususnya psikologi kepribadian, istilah pengembangan diri disini tampaknya dapat disepadankan dengan istilah pengembangan kepribadian, yang sudah lazim digunakan banyak orang. Pengembangan diri adalah penyemaian potensi diri sendiri, pengembangan diri terkait erat dengan perbaikan diri (Sudarwan Danim, 2011:188).
Menurut Zulfan Saam (2011:68) Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Lebih lanjut Zulfan Saam mengatakan bahwa kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.
Menurut Badan Standar Nilai Pendidikan kegiatan pengembangan diri difasilitasi oleh sekolah dalam kegiatan ekstra kurikuler yang dapat dibina oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya. pengembangan diri dalam dunia pendidikan diartikan juga sebagai kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap konsel sesuai kondisi sekolah dan lingkungan setempat.
Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa pengembangan diri bukan suatu mata pelajaran yang harus dibimbing oleh guru namun dapat difasilitasi oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang bertujuan untuk mengembangkan bakat, minat dan mengekspresikan diri peserta didik sesuai dengan kebutuhan dengan lingkungan dan keadaan sekolah.
Pengembangan diri mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan seperti pelaksanaan mata pelajaran, namun ketika masih dalam pelayanan bakat dan minat akan terkait dengan substansi mata pelajaran dan bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat peserta didik. Selain itu pengembangan diri dapat dilakukan dengan metode diskusi, bermain peran, Tanya jawab, pemecahan masalah, metode lainnya.


Bentuk-bentuk Pengembangan Diri
Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik. Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen:
1.   Pelayanan konseling, meliputi pengembangan: kehidupan pribadi, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir.
2.   Kegiatan ekstrakurikuler meliputi: kepramukaan, latihan kepemimpinan, karya tulis ilmiah remaja, palang merah remaja, seni, olah raga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan.
Kegiatan pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut.
1.   Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri.
2.   Spontan, adalah kegiatan tidak terjadwal dalam kegiatan khusus seperti, pembentukan prilaku member salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi pertengkaran.
3.   Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu (Zulfan Saam, 2011:69-70).
Tujuan Pengembangan Diri
Sementara itu Zulfan Saam (2011:68) juga menyebutkan bahwa tujuan umum pengembangan diri adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah. Tujuan khusus pengembangan diri adalah menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah, dan kemandirian.

Kegiatan pengembangan diri munurut BNSP bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri dalam dunia pendidikan diartikan sebagai kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bahan integral dari kurikulum sekolah, sebagai bentuk upaya pembentukan watak kepribadian peserta didik melalui bimbingan dan konseling serta melalui ekstrakurikuler (Muhaimin, dkk. 2008:66) dalam skripsi Bregita Rindy Antika.
Ruang Lingkup Pengembangan Diri
Pengembangan diri dalam KTSP memiliki ruang lingkup agar pelaksanaannya dapat lebih konkrit dan terasa efek atau hasilnya yang dapat dirasakan oleh peserta didik. Menurut BSNP, ruang lingkup pengembangan diri antara lain:
a.       Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram.
b.      Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti peserta didik sesuai kebutuhan dan kondisi pribadinya.
c.       Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik.
Sedangkan konsep pelaksanaan pengembangan diri menurut Muhaimin (2008:67) dalam skripsi Bregita Rindy Antika menjelaskan sebagai berikut:
1.      Kegiatan pengembangan diri mempertimbangkan minat dan bakat peserta didik.
2.      Kegiatan pengembangan diri mempertimbangkan sumber daya (SDM dan fasilitas atau sarana dan prasarana) yang dimiliki sekolah.
3.      Ada upaya jelas untuk penambahan dan peningkatan sumber daya guna memfasilitasi kegiatan pengembangan diri.
4.      Ada aturan yang jelas tentang macam-macam kegiatan pengembangan diri yang harus dipilih peserta didik.
5.      Ada kejelasan model pelaksanaan dan penilaiannya.
6.      Kegiatan pengembangan diri mencerminkan pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah.

Konsep Kreativitas
a.      Pengertian Kreativitas
Kajian literature menunjukkan bahwa terdapat berbagai definisi mengenai istilah kreativitas. Banyak pakar memandang kreativitas sebagai suatu bentuk pemikiran (mental), sementara beberapa kalangan menganggapnya sebagai upaya menghasilkan suatu produk. Secara umum The Oxford English Dictionary menjelaskan “ creativity as being imaginative and inventive, bringing into existence, making, originating. Oleh karena itu, istilah kreativitas berkenaan dengan perubahan yang dapat mengahsilkan gagasan baru, kapasitas menghasilkan gagasan yang orisinil, inventif dan baru.

Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya. Seseorang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan dimana ia berada (Utami Munandar, 2004:.12). Setiap individu sebenarnya memiliki potensi untuk kreatif, dengan berbagai macam bentuknya. Namun untuk lebih mengoptimalkan dan mengembangkan kreativitas lebih lanjut, maka diperlukan peran lingkungan  untuk merangsang dan lebih mengembangkan kreativitas yang sudah ada.

Lingkungan (dalam hal ini orang tua dan guru di sekolah) berperan penting untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi-potensi kreatif pada anak. Namun sebaliknya tanpa disadari orang tua dan guru juga dapat berperan sebagai penghambat dalam kreativitas anak. Kreativitas seorang anak menentukan 80 persen keberhasilan anak tersebut di masa depannya, sementara 20 persen lainnya ditentukan oleh intelegensi anak (Winarsih,2010:59).

Menurut Drevdahi dalam (Ali dan Asrori, 2005: 42) kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan baru yang dapat berwujud akrivitas imajinasi atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada sekarang. Sedangkan Slameto (2010: 138) mengatakan bahwa kreativitas merupakan hasil belajar dalam kecakapan kognitif, sehingga untuk menjadi kreatif dapat dipelajari melalui proses belajar mengajar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kreativitas belajar merupakan titik pertemuan yang khas antara hubungan interaktif dengan proses belajar dan pengalaman dari lingkungannya sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang baru.
b.      Ciri-Ciri Siswa yang Kreatif
Utami Munandar mengemukakan ciri-ciri siswa yang kreatif yaitu:
1.      Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam.
2.      Sering mengajukan pertanyaan yang baik.
3.      Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah.
4.      Bebas dalam menyatakan pendapat.
5.      Mempunyai rasa keindahan yang dalam.
6.      Menonjol dalam salah satu bidang seni.
7.      Mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.
8.      Mempunyai rasa humor yang luas.
9.      Mempunyai daya imajinasi.
10.  Orisinil dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah. (Utami munandar, 2004: 71)

Sedangkan cirri-ciri kreativitas belajar menurut Munandar (2009:10-11) dibedakan menjadi dua kategori yaitu kategori aptitude dan non aptitude. Adapun yang tergolong cirri aptitude yaitu 1) kelancaran berfikir, 2) kelenturan, dan 3) mampu berfikir orisinal dalam belajar. Sedangkan yang tergolong non aptitude antara lain 1) keuletan, 2) apresiasi estetik, 3) kemandirian, 4) inovatif, percaya diri dan tanggung jawab.

Ciri-ciri kreativitas menurut Hamalik (2008:145) adalah 1) mengamati dan menilai dengan tepat apa-apa yang diamati, 2) kapasitas otaknya lebih besar, 3) cakrawalanya lebih kompleks, 4) kontraknya lebih luas dengan dunia imajinasi, 5) kesadarannya lebih luas dan luwes, 6) kebebasan yang objektif untuk mengembangkan potensi kreatifnya, 7) kemampuan kognitif, 8) didorong terhadap nilai dan terhadap latihan untuk mengembangkan  bakatnya.
c.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
1)      Faktor Pendukung Kreativitas
Munandar (2004:94-95) memaparkan bahwa dari berbagai penelitian diperoleh hasil bahwa sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak antara lain:
1.   Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkannya.
2.    Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal.
3.    Membiarkan anak mengambil keputusan sendiri.
4.    Mendorong kemelitan anak untuk menjajaki dan mempertanyakan banyak hal.
5.    Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicoba dilakukan dan apa yang dihasilkan.
6.     Menunjang dan mendorong kegiatan anak
7.      Menikmati keberadaannya bersama anak.
8.      Memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak.
9.      Mendorong kemandirian anak dalam bekerja
10.  Melatih hubungan kerja sama yang baik dengan anak.

Bila hasil penelitian lapangan digabungkan dengan penelitian laboratorium mengenai kreativitas dan dengan teori-teori psikologis maka diperoleh petunjuk bagaimana sikap orang tua secara langsung mempengaruhi kreativitas anak mereka. Beberapa faktor yang menentukan tersebut antara lain:
1.      Kebebasan.
Orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak, tidak otoriter, tidak selalu mau mengawasi anak, tidak terlalu membatasi kegiatan anak, dan tidak terlalu cemas mengenai anak mereka cenderung mempunyai anak yang kreatif.
2.      Respek.
Orang tua yang menghormati anak sebagai individu, percaya akan kemampuan mereka, dan menghargai keunikan anak biasanya memiliki anak yang kreatif. Anak-anak ini secara alamiah mengembangkan kepercayaan diri untuk berani melakukan sesuatu yang orisinal.
3. Kedekatan Emosional yang Sedang.
Kreativitas anak dapat terhambat oleh suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan atau penolakan namun keterikatan emosional yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas. Anak perlu merasa bahwa ia diterima dan disayangi tetapi seyogianya tidak menjadi terlalu tergantung kepada orangtua.
4.      Prestasi, Bukan Angka.
Orang tua anak kreatif mendorong anak untuk berusaha dan menghasilkan karya yang baik namun tidak terlalu menekankan untuk mencapai angka atau peringkat tertinggi.
5.      Orang tua Aktif dan Mandiri.
Bagaimana sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena mereka menjadi model utama bagi anak. Orang tua anak yang kreatif merasa aman dan yakin tentang diri sendiri, tidak memperdulikan status sosial, dan tidak terlalu terpengaruh oleh tuntutan sosial. Mereka juga amat kompeten dan mempunyai minat, baik di dalam maupun di luar rumah.
6.      Menghargai Kreativitas.
Anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif. Torrance dalam Munandar mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu: (1) menghormati pertanyaan yang tidak biasa; (2) menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa; (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri; (4) memberi penghargaan kepada siswa; dan (5) meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian. Hurlock dalam Munandar mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu: (1) waktu, (2) kesempatan menyendiri, (3) dorongan, (4) sarana, (5) lingkungan yang merangsang, (6) hubungan anak-orang tua yang tidak positif, (7) cara mendidik anak, (8) kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa kreativitas anak akan berkembang jika orang tua dan guru selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua/guru paling benar, atau melecehkan pendapat anak.

Selain itu orang tua dan guru harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.

Untuk mengembangkan kreativitas anak, orang tua dan guru harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian di sekelilingnya, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dan guru harus menjawab dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku, dan sebagainya. Orang tua dan guru janganlah menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orang tua dan guru harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru. Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua/guru. Tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.

Sementara itu menurut Mayang Sari faktor lingkungan (ruang) juga dapat sebagai pendorong kreativitas anak. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa perkembangan kreativitas anak bukan hanya dipengaruhi oleh lingkungan psikis saja, tetapi lingkungan fisik juga memiliki andil yang cukup besar. Ruang interior sebagai salah satu lingkungan fisik dapat berperan sebagai pendorong atau “press” untuk mengembangkan kreativitas anak, sebagai stimuli eksternal. Kebutuhan anak akan ruang berdasarkan kebutuhan pada perkembangan psikis dan fisiknya. Dengan demikian dibutuhkan kualitas ruang interior yang memadai dan sesuai kebutuhan bagi perkembangan kreativitas anak tersebut.

Untuk mengembangkan kreativitas anak, menurut Mayesky (Majidi, 2009) ada beberapa hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah (1) main drama, (2) main boneka, (3) bermain pasir, kertas lipat atau lilin, (4) bermain sambung cerita, (5) main musik, (6) meniru bentuk, dan (7) serbuan pertanyaan. Dan merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Robert Eisenberger (1999)  ditemukan bahwa pemberian penghargaan pada anak akan menjadi hal yang sangat efektif untuk merangsang minat dan kreativitas anak. 
2)      Faktor Penghambat Kreativitas
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orang tua. Misalnya ora orang tua melarang anak merobek-robek kertas karena takut rumah jadi kotor, atau berteriak saat anak main pasir karena takut anak terkena kuman. Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan sebagainya. Penyikapan orang tua seperti itu berarti merupakan salah satu contoh dari sekian banyak faktor yang menghambat kreativitas seorang anak.

Amabile (Munandar, 2004) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu (1) evaluasi, (2) hadiah, (3) persaingan/kompetisi antara anak, dan (5) lingkungan yang membatasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Tegano, D.W (1991) bahwa yang mematikan kreativitas diantaranya (1) menjadikan anak-anak bekerja mengharapkan penghargaan (2) membuat situasi kompetisi, (3) memfokuskan siswa pada penilaian, (4) terlalu banyak pengawasan, dan (5) menciptakan pilihan situasi yang terbatas.

Sementara itu menurut Torrance (2001) yang dapat mematikan kreativitas diantaranya: (1) usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi; (2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak; (3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual; (4) terlalu banyak melarang; (5) takut dan malu; (6) penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan (7) memberikan kritik yang bersifat destruktif.

Adapun sikap orang tua yang tidak menunjang pengembangan kreativitas anak (Munandar, 2004) adalah:
1.      Mengatakan kepada anak bahwa ia dihukum jika berbuat salah.
2.      Tidak membolehkan anak menjadi marah terhadap orang tua
3.      Tidak membolehkan anak mempertanyakan keputusan orang tua.
4.      Tidak membolehkan anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak.
5.      Anak tidak boleh berisik.
6.      Orang tua ketat mengawasi kegiatan anak.
7.     Orang tua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas.
8.      Orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak.
9.      Orang tua tidak sabar dengan anak.
10.  Orang tua dan anak adu kekuasaan.
11. Orang tua menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas. (Munandar, 2004:95)

Kemudian menurut Mayesky (Majidi, 2009) ada beberapa hal yang bisa membatasi atau menghambat kreativitas anak diantaranya (1) ide yang dikemukakan anak selalu dipatahkan, (2) orang tua terlalu over-protective, dan (3) waktu main sangatdibatasi. Selain faktor orang tua dan guru, yang tak kalah penting adalah faktor lingkungan. Adapun bentuk-bentuk peran lingkungan dalam membentuk kreativitas individu menurut Mayang Sari (2009) adalah:
1. Menghargai pendapat anak dan mendorong untuk mengungkapkannya.
2.Memberikan waktu kepada anak untuk berfikir, merenung dan berhayal.
3.   Memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri. Dengan anak mengambil keputusannya sendiri, maka anak akan bertanggung jawab untuk mengambil keputusannya sendiri.
4.   Mendorong keingintahuan anak untuk mengetahui banyak hal. Orang tua atau guru menfasilitasi keingintahuan anak dengan memberikan informasi yang layak. Bisa dilakukan dengan memberikan buku-buku untuk dibacakan pada anak, atau dengan mengajak anak untuk mengunjungi objek yang ingin diketahuinya.
5.   Meyakinkan anak bahwa orang tua atau guru menghargai apa yang ingin dicoba lakukan anak dan hasil akhirnya. Ini bisa dilakukan dengan memberikan anak kesempatan untuk melakukan eksperimennya dari setiap pengetahuannya.
6.   Menunjang dan mendorong kegiatan kreatif anak. Artinya orang tua atau guru memberikan fasilitas yang mendukung, membimbing, anak dalam eksperimentasinya, atau mengasuh bakat anak dengan dengan berbagai kegiatan positif, misalnya lomba, kursus, atau pelatihan.
7.   Menikmati keberadaanya bersama anak. Orang tua atau guru senang bersama anak. dan mampu menjalin komunikasi secara terbuka, hangat dan empatis terhadap anak. 
8.   Memberi pujian yang sungguh-sungguh dan tepat sasaran pada anak. Pujian harus diberikan ketika anak berhasil melakukan proses kreatifnya. Pujian hendaknya diberikan tidak berdasarkan hasil tetapi lebih pada proses. Maksudnya orang tua atau guru harus memuji kerja keras, ketekunan, dan semangat anak dalam proses kreatifnya, walaupun hasilnya belum begitu memuaskan. Mendorong kemandirian anak dalam bekerja, orang tua atau guru hendaknya jangan terlalu ikut campur dan terlalu mengarahkan anak. Biarkan anak mengembangkan dan menerapkan ide-idenya tersebut. Anak didorong untuk menemukan solusi pada setiap permasalahan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab, mandiri terhadap kehidupannya.
9.   Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan anak, artinya orang tua atau guru mau membantu anak ketika anak mengalami sebuah kesulitan. Dalam hal ini bukan berarti membantu secara penuh terhadap setiap permasalahan yang dihadapi anak, namun disini orang tua atau guru hanya boleh mengarahkan dan tetap mendukung setiap keputusan yang diambil oleh anak. Karena masa anak adalah masa-masa penting dalam mengembangkan potensi kreatif yang mulai tumbuh dan berkembang, maka dibutuhkan lingkungan yang kondusif. 

Falsafah mengajar yang mendorong berkembangnya potensi kreatif anak menurut Utami Munandar sebagai berikut:
1.   Belajar harus berada dalam suasana yang menyenangkan
2.   Seorang anak atau siswa harus dihargai sebagai sesuatu yang unik bukan menurut impian guru atau impian ideal guru.
3.   Anak didorong untuk menjadi pribadi yang aktif. Maksudnya siswa diberikan seluas-luasnya untuk terlibat aktif dalam proses belajar, misalnya menyampaikan pengalaman, mengutarakan ide-idenya di dalam kelas, ikut memberikan masukan-masukan dalam materi pelajaran dan dan didorong untuk berdiskusi dengan guru mengenai banyak hal yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar.
4.   Anak perlu distimulasi secara nyaman selama proses belajar-mengajar.
5.   Anak didorong untuk memiliki kebanggaan dan rasa memiliki di dalam kelas, melalui keterlibatannya dalam merancang dan menyusun materi dan kegiatan belajar dengan membawa barang-barang untuk dipraktekkan di dalam kelas.
6.   Guru berfungsi sebagai fasilitator bukan berfungsi yang selalu membimbing dan memberi tahu siswa ketika mereka tidak tahu.
7.   Hadiah lebih ditekankan pada seseuatu yang bersifat simbolis misalnya pujian, bukan yang bersifat materi.
8.   Dalam memberikan tugas anak, guru memberikan pilihan pada anak bagaimana cara menyelesaikannya. Seperti guru memberikan tugas mengarang, maka tema biarkan anak memilih sendiri, sehingga anak mampu berfikir secara intrinsik dan kreatif untuk menyelesaikannya. (Utami Munandar, 2004:111) 

DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono. 1995. Pengantar Evaluasi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Antika, Bregita Rindy. 2013. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Ali Mohammad dan mohammad Asrori. 2006. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

BNSP(Badan Standar Nilai Pendidikan)  dan Pusat Kurikulum Badan penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional

Danim Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru. ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar dan mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensinda.

Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Saam, Zulfan. 2011. Psikologi Pendidikan. Pekanbaru:  CV. Witra Irzani.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Winarsih. 2010. Pendidikan Karakter Bangsa. Jakarta: Loka Aksara.



0 Komentar